STRESS DAN KONFLIK DALAM MANAJEMEN

Bicara tentang stress, semua orang kayanya pernah ngalamin yang namanya stress. Banyak hal yang bisa ngebuat kita stress. Mulai dari tugas yang numpuk, atau kegiatan-kegiatan organisasi yang bejibun, sampe urusan percintaan #eh #yah hahaha. Apasih sebenernya stress itu? Stress adalah suatu respon adaptif, dimoderasi oleh perbedaa individu, yang merupakan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi, atau peristiwa dan yang menempatkan tuntutan khusus terhadap seseorang. Stress merupakan hasil yang diperoleh dalam menangani sesuatu yang memberikan tuntutan khusus kepada kita. ‘Khusus’ dalam hal ini maksudnya secara fisik atau psikologis mengancam diri kita. Sesuatu yang menstimulus kita yang secara potensial membahayakan kita bisa disebut sebagai stressor.

Nah, agar suatu tindakan, situasi, atau peristiwa dapat menghasilkan stress, harus dipersepsikan oleh individu suatu sumber ancaman, tantangan, atau bahaya. Ada tiga factor yang menentukan apakah suatu pengalaman akan menghasilkan stress, yaitu adalah kepentingan, ketidakpastian, dan durasi. Kepentingan dikaitkan dengan seberapa signifikan peristiwa terseut bagi si individu. Misalnya, saat seseorang menhadapi PHK, semakin signifikan PHK bagi orang tersebut, semakin PHK itu yag membuatnya stress. Jika orang tersebut berkespektasi bahwa PHK itu akan diikuti oleh suatu periode pengangguran yang cukup lama, mungkin akan dipandang sebagai suatu peristiwa yang lebh penting daripada jika penerimaan kerja kembali pasti akan datang. Ketidapasian merujuk pada kurangnya kejelasan mengenai apa yang akan terjadi. Isu tetang PHK yang akan terjadi mungkin akan menjadi hal yang lebih menegankan bagi beberapa orang, daripada mengetahui dengan pasti bahwa mereka memang akan di PHK (setidaknya mereka dapat membuat rencana untuk menghadapi situasi tersebut). Seringkali “tidak mengetahui” menempatkan tuntutan yang lebih besar pada seseorang daripada “mengetahui”. Yang terakhir adalah durasi. Durasi merupakan factor yang signifikan, secara umum  semakin lama tuntutan khusus tersebut ditempatkan kepada kita , situasi tersebut semakin meimbulkan stress. Sebuah tugas pekerjaan yang tidak disukai yang hanya berlagsung satu atau dua hari mungkin mengesalkan, tapi jika tugas yang sama berlangsung selama enam bulan, hal tersebut dapat menjadi hal yang menyakitkan. Stress untuk durasi yang singkat kadang disebut sebagai stress akut, hal ini mungkin terjadi selama beberapa detik, jam, atau beberapa hari. Sedangkan stress dalam durasi yang pajang , dalam beberapa bulan atau beberapa tahun sering disebut sebagai stress kronis. Contoh dari stress akut misalnya kerusuhan akibat persaingan etnis antara Cheechna dan Rusia. Hal tersebut merupakan tekanan yang melelahkan pada pekerjaan dimana seseorang tida menemukan kepuasan dala mengerjakannya, tuntutan konstan yang dibebankan oleh atasan yang tidak masuk akal atau perjuangan tanpa akhir dalam pilihan karir seeorang.

Stressor Pekerjaan

Dalam dunia kerja, yang dapat menjadi stressor pada seseorang diantaranya adalah stressor individual, kelompok, dan organisasi.

Stressor individual. Pada tingkat ini konflik peran mungkin merupakan stressor individual yang paling luas untuk diteliti. Konflik peran itu apa sih? Konflik peran akan muncul ketika seseorang menerima peran yang tidak sebanding dengan perilaku peran yang sesuai.  Contoh dari koflik peran misalnya studi di Goddard Space Flight Center menemukan bahwa sekitar 67% karyawan yang mengalami koflik peran mengalami kepuasan kerja yag lebih rendah dan ketegangan yang berhubungan dengan perkerjaan yang lebih tinggi. Semakin besar kekuasaan atau otoritas dari orang yang mengirimkan pesan yang menimbbulkan konflik, semakin besar ketidakpuasan pekerjaan yang dihasilkan oleh koflik peran.

Stressor kelompok, organisasi, dan non pekerjaan. Pada tingkatan ini yang dapat menjadi stressor diantaranya adalah partisipasi, hubungan intrakelompok dan interkelompok, politik organisasi, budaya organisasi, kurangnya umpan bali kinerja, kesempatan pengembangan karir yang tidak mencukupi,  dan pengurangan karyawan.

Lalu, bagaimana upaya pencegahan stress dan manajemen stress?

Ada tiga hal, yang pertama adalah memasimalkan kesesuaian lingkungan orang, yan kedua adalah melakukan program organisasi sperti bantuan dan kesejahteraa karyawan, dan yan terakhir adalah melakukan pendekatan individual seperti teknik kognitif, pelatihan relaksasi, meditasi, dan biofeedback.

DAFTAR PUSTAKA

Ivancevich, J.M. , Konopaske, R. Matteson M.T. 2006 . Perilaku dan manajemen organisasi: Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s