Fenomena Ketertarikan Interpersonal Melalui Internet

Menurut psikologi sosial, ketertarikan interpersonal adalah sikap seseorang mengenai orang lain dimana ketertarikan meliputi evaluasi sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga sangat tidak suka. Hubungan Interpersonal mencakup mengenai bagaimana terjadinya suatu hubungan interpesonal, mulai dari ketertarikan antarpribadi, faktor – faktor yang memengaruhi (seperti daya tarik fisik dan kedekatan), afek yang menetukan bagaimana hubungan akhirnya terjalin menjadi jatuh cinta, pejelasan mengenai segi tiga cinta Strenberg, pernikahan, hingga terjadinya perselingkuhan dan alasannya.

Dalam internet, para pengguna disuguhkan berbagai fitur bersosialisasi, mulai dari browsing, mailing, chatting, hingga jejaring sosial. Yang namanya fitur bersosialisasi, kita pasti tidak menjalaninya sendirian, melainkan ada relasi atau hubungan berkomunikasi dengan orang lain, entah itu dekat atau jauh dari tempat kita berada. Dari hubungan berkomunikasi dengan orang lain itulah datangnya ketertarikan antara satu pengguna dengan pengguna lainnya. Ketertarikan tersebut hadir biasanya karena ada kecocokan diantara mereka. Tidak hanya berlaku untuk dua orang saja, namun fasilitas ini juga bisa membuat group untuk membicarakan hal-hal yang memiliki tema sama.

Hubungan komunikasi yang baik lewat internet seiring dengan berkembangnya ketertarikan interpersonal dalam internet, dapat memunculkan relationship atau hubungan, seperti hubungan pertemanan, hubungan kerja, hubungan kelompok, hingga yang sering terjadi yaitu hubungan kekasih, tak jarang perkenalan melalui internet ini dapat berlanjut ke jenjang pernikahan meskipun sepasang kekasih ini dipisahkan oleh jarak. Namun, dalam berjalannya hubungan-hubungan tersebut tidak selalu dapat dilalui dengan mulus. Ada pula hubungan yang harus hancur karena beberapa hal seperti identitas palsu, misalnya identitas palsu pada akun facebook seseorang yang sudah menikah. Ia memasang status di facebooknya sebagai seorang yang single atau belum menikah. Ini dapat menghancurkan keharmonisan keluarga jika sang istri atau suami melakukannya. Hal kedua yang dapat menghancurkan hubungan yaitu kurangnya komitmen antar satu sama lain, tiap hubungan pasti harus ada komitmen yaitu persetujuan satu sama lain yang saling mengikat. Dalam hubungan di internet, seseorang yang sudah berkomitmen untuk terus menghubunginya secara berkala bisa saja meghilang begitu saja tanpa ada kabar. Misalnya saja yang sudah banyak terjadfi belakangan ini yaitu penipuan online shop. Biasanya pelaku komitmen kabur setelah korban mentransfer sejumlah uang untuk membayar barang yang dipesan. Atau bisa juga sepasang kekasih yang sudah berkomitmen untuk saling kontak pada waktu tertentu, tapi ternyata salah satu tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar apapun, sehingga dapat membuat yang satunya lagi berpikiran negatif dan timbullah keretakan keakraban. Yang terakhir menurut saya, norma dan etika juga berperan penting dalam interpersonal online reaction. Jika tidak ada atau kurangnya norma dan etika, dapat membuat perpecahan kedua belah pihak, entah itu kelompok (seperti kelompok agama, ras, suku, partai, dll) maupun perorangan. Misalnya saja beberapa situs milik kelompok yang menulis kejelekan atau kekurangan-kekurangan kelomok lainnya tanpa etika dan norma (bahasa tidak sopan, dan lain-lain).

Nah, selain ada hambatan dalam hubungan di internet, ada juga perilaku negatif yang bisa ditimbulkan dalam interpersonal online reaction ini, diantaranya Cyber Cheating dan cyber firtling.

Cyber Cheating berarti perselingkuhan yang terjadi di dunia maya saat seseorang sudah memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain di dunia nyata. Seperti yang saya bilang tadi, membuat identitas palsu dapat memicu terjadinya Cyber Cheating ini. Misalnya saja artikel yang saya dapat ini.

“Ini kisah yang ku alami, panggil saja namaku Nina (36th), suamiku ipank (39th). Kami sudah menikah 13 tahun dan dikaruniai seorang anak. Hubungan rumah tangga kami baik-baik saja meski suamiku 3 tahun ini nganggur, itu tidak masalah bagiku toh kebutuhan rumah tangga masih terpenuhi. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan di rumah akulah penopang rumah tangga, segala tetek bengek pengeluaran berasal dariku.

Selama aku bekerja di siang hari, mas Ipang mengisi waktu dengan bermain facebook, katanya agar tidak bosan dan siapa tahu dapat informasi kerja dari teman-teman. Sebenarnya aku tidak pernah melarang dia untuk mengenal siapapun tapi ternyata kepercayaanku itu disalah gunakan olehnya. Belakangan aku sadar kalau suamiku menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi yang dikenalnya di Facebook.

Gadis itu masih satu kota dengan kami dan berstatus mahasiswi semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta. O iya di Facebook, suamiku selalu mengaku bujangan kepada siapapun yang dia kenal. Dari saling sapa di Facebook mereka akhirnya berpacaran. Bahkan teman-teman cewek itu dan teman-teman suamiku tahu mereka berpacaran. Dari Facebook mereka saling telponan dan sms-an, bahkan suamiku jarang tidur malam denganku karena tiap malam dia online sampai pagi.

Suatu hari secara tidak sengaja aku mendapati Hp suamiku yang masih aktif berada di genggamannya. Saat itu suamiku tertidur di depan TV dan Hp-nya sedang tidak terpassword. Kulihat history telpon dan sms-nya dan dari situ aku tahu semua. Ternyata selama ini aku dibohongi mentah-mentah. Padahal selama dia nganggur aku yang menanggung semua biaya hidup rumah tangga termasuk pulsa untuk dia. Tentu saja aku kecewa, rasanya pengen nangis.

Dengan berbagai alasan dia mengelak, katanya semuanya hanyalah hubungan maya dan aku tetap istrinya. Dia berjanji dan aku percaya.. bodohnya aku, janjinya untuk tidak mengulangi hanya bertahan satu minggu. Aku kembali menemukan Hp-nya yang masih aktif saat dia tertidur.. dan dia kembali beralasan dan berjanji. Tuhan, Lemahnya diriku..

Kadang kusesali pernikahan ini. Untuk apa menikah kalau derita yang harus di dapat. Satu-satunya yang membuatku tegar adalah anak semata wayangku. Aku mandiri, aku bisa meninggalkan suamiku kapanpun aku mau, toh selama ini akulah yang membiayai semua pengeluaran rumah tangga.. bukan suamiku. Tapi aku tidak ingin anakku menderita dan menjadi broken home karena orang tua yang bercerai.

Kali ketiga kudapati Hp suamiku yang aktif, kembali saat dia tertidur, kulihat lampu notifikasinya berkedip-kedip karena ada panggilan masuk. Kuambil Hpnya, ternyata si pacar mahasiswinya yang menelpon, tapi begitu kuangkat langsung dimatiin. Karena posisi Hp sedang aktif aku bisa telpon balik ke cewek tersebut. Aku bicara dengannya sebagai sesama wanita dan akhirnya aku tahu kalau suamiku menyebutku sebagai mantan pacar yang diputus karena selingkuh dan ingin balik lagi tapi dia tidak mau dan hanya cinta pada si gadis mahasiswi ini. Kukatakan pada gadis itu, silahkan ambil suamiku karena aku ikhlas melepas kalau dia mau.

Ceritaku diatas adalah kisah setahun yang lalu. Hari-hariku kini berjalan biasa, lambat dan aku merasa kosong.. entahlah. Ruang di hati yang dulu kupersembahkan buat suamiku tercinta kini terasa kosong. Meskipun suamiku mengaku sudah putus dengan mahasiswi itu, jujur aku tidak bisa percaya lagi padanya. Orang bilang hati yang terluka susah dicari obatnya, barangkali itu yang kurasakan, sakit hati. Apalagi Hp suamiku masih terpassword, itu yang membuat aku tidak yakin mereka sudah tidak berhubungan lagi. Suamiku.. kau orang yang tidak bisa diatur, egois, tidak bertanggung jawab. Aku sudah lupa kenapa dulu mau saja aku jadi istrimu.. aku bingung.”

Yang kedua yaitu Cyber Flirting, yaitu merayu yang dilakukan di dunia maya. Sebenarnya hal ini sudah sering dan umum terjadi, namun terkadang ada beberapa rayuan-rayuan yang dilontarkan secara tidak pantas, dari kata-katanya maupun sasarannya. Misalnya saja sasaran yang di-flirt-in itu orang yang sudah memiliki pasangan di dunia nyata, hal itu dapat membuat kesalahpahaman jika si pasangan di dunia nyata ini melihat history chattingnya yang di-flirt-in.

Jadi, kesimpulannnya, interpersonal online reaction itu menguntungkan, kita dapat berkomunikasi dengan orang yang kita kenal tapi sedang jauh dari kita, atau kita juga bisa kenal dengan orang atau kelompok-kelompok baru. Tapi, kita juga harus berhati-hati dalam berkomunikasi, terutama dengan orang yang belum kita kenal. Selain harus menggunakan etika dan norma dalam berinternet, kita juga jangan mudah percaya dan terperdaya oleh hal-hal yang menggiurkan. Misalnya saja profile picture orang tak dikenal berwajah tampan atau cantik, belum tentu wajah asli mereka seperti itu, hehehe :p jadi, berlaku bijak lah dalam menggunakan internet!

http://psychologynews.info/psikologi-sosial/ketertarikan-interpersonal-bertemu-menyukai-dan-menjadi-kenal/

http://book.nurmelly.com/201304-kisah-nyata-suamiku-selingkuh-di-facebook-95.html#.UoOjc3BplC0

http://deathneverlost.wordpress.com/2012/11/18/psikologi-dan-internet-dalam-lingkup-interpersonal/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s