Tahun Baru, Perlukah dirayakan?

Tanggal 31 desember menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat dunia. Hampir semua orang keluar dari rumah mulai dari siang menjelang sore, sampai malam bahkan ada juga yang sampai pagi. Tentunya orang-orang ini tidak mau melewatkan detik-detik pergantian tahun masehi. Seperti baru-baru ini, masyarakat dunia merayakan pergantian tahun dari 2012 ke 2013 dengan berbagai cara.

Mayoritas masyarakat dunia, bahkan Indonesia, merayakan tahun baru dengan cukup meriah atau bahkan sangat meriah. Misalnya saja banyak dari masyarakat yang memilih pergi keluar kota atau bahkan keluar negeri hanya untuk melihat kemewahan pergantian tahun. Atau ada juga yang tidak memiliki banyak waktu untuk keluar kota, mereka memilih tetap didalam kota dan pergi ke pusat perbelanjaan untuk menghabiskan malam pergantian tahun dengan “berburu diskon”. Hal ini pastinya dilakukan oleh masyarakat yang berduit. Atau juga untuk orang-orang yang malas untuk keluar rumah, mungkin hanya sekedar memainkan terompet dan menyalakan kembang api di halaman rumahnya.

Sebenarnya, melihat sifat konsumtif masyarakat dunia termasuk Indonesia ini, sepertinya sangat miris jika dibandingkan masyarakat yang tidak berduit, atau dalam hal ini tidak mampu. Sebenarnya, perlukah tahun baru dirayakan? Dan apa sebenarnya sejarah dan makna tahun baru?

 

Asal Mula Tahun Baru

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Jadi, sebenarnya ini tradisi dari yunani, yang berkembang dan bahkan dijadikan salah satu hari suci umat nasrani. Naudzubillah…..

Malam Tahun Baru = Pemborosan?

Saat kita memilih pergi keluar kota untuk berlibur sekaligus menanti malam pergantian tahun, tentunya kitapun membutuhkan biaya yang bisa dibilang cukup besar. Saat kita memilih berada didalam kota dan berbelanja di pusat perbelanjaan, tentunya juga kita mengeluarkan uang. Sama halnya dengan ‘hanya’ sekedar meniup terompet dan menyalakan kembang api di halaman rumah, untuk membeli terompet dan kembang api tentunya memerlukan uang bukan? Ya, memang hal-hal diatas bagi beberapa orang beralasan menggunakan uangnya untuk melepaskan lelah dan ingin beristirahat sejenak dari kejenuhan kegiatan-kegiatan rutinitas seperti bekerja, ataupun sekolah.

 

Berburu Diskon

Beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta menyelenggarakan “Midnight Sale” atau pesta diskon besar-besaran di malam pergantian tahun. Diskon ini biasanya berlaku dari sore hingga tengah malam. Dengan diskon-diskon yang menggiurkan, mualai dari 30%, 50%, atau bahkan mencapai 90%, pengunjung seperti disajikan barang-barang dengan harga sangat murah. Padahal, dari harga asli yang sangat tinggi, jika didiskon tetap saja harganya masih tinggi. Kebanyakan orang termakan dengan kata-kata “diskon” ini.

Kembang Api?

Bagi saya, ini yang paling aneh. Kembang api. Banyak dicari orang dimalam pergantian tahun, dan banyak dijual dipinggir jalan hingga di pusat perbelanjaan. Kembang api memang indah, tetapi menurut saya keindahan ini hanya sesaat. Setelah kembang api dibakar, ia muncul di langit-langit dengan berbagai bentuk, warna, dan suara yang cukup indah. Tetapi hanya sebentar sekali untuk satu kembang api. Sudah, setelah itu tidak manghasilkan apa-apa lagi. Jika ingin melihat kembang api dalam waktu lama, tentunya membutuhkan kembang api yang cukup banyak dan tentunya mengeluarkan uang lebih banyak. Sepertinya sama halnya dengan anda membakar uang anda saja. Tidak hanya itu, tak jarang barang inipun menelan korban luka bahkan kebakaran yang justru merugikan diri kita sendiri.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tahun baru tidak seharusnya dirayakan dengan cara-cara seperti diatas, kesannya hanya seperti membuang uang. Belum lagi jika kita tengok sejarah tahun baru tersebut, sungguh sangat tidak mencerminkan seorang muslim. Memang, masyarakat dunia terpaku pada kalender masehi. Tapi kita juga tidak boleh melupakan tahun baru islam. Lihat saja, jika dibandingkan dengan tahun masehi, tahun hijriyah pun pasti kalah meriah, padahal mayoritas agama di Negara kita ini adalah muslim.

Apakah karena masyarakat dunia menganut kalender masehi, kita harus ikut-ikutan merayakannya dengan pesta besar-besaran seperti itu? Kenapa kita tidak introspeksi diri kita masing-masing, atau menyisihkan uangnya untuk membuat acara di panti-panti seperti mengadakan acara di panti asuhan, atau panti jompo. Insya Allah kegiatan-kegiatan ini lebih bermanfaat bagi diri kita dan orang lain tentunya. Disini saya tidak bermaksud ingin memojokkan masyarakat, saya hanya ingin masyarakat dapat lebih bijak lagi dalam berpikir dan menggunakan waktu dan uangnya agar tidak terbuang sia-sia. Jadi, masih maukah anda merayakan tahun baru masehi dengan cara bermewah-mewahan seperti ini?

 

Daftar kepustakaan:

http://www.eramuslim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s